Gemuruh di Waktu Senja


senja yang telah menempanya hingga musim renta

tak ada yang lebih membakar hati, selain gemuruh di pagi hari

saat pagar dan tembok anyaman bambu rumahnya roboh

bukan lantaran banjir atau tsunami yang tiba-tiba

tapi betapa gemuruh pentungan dan buldozer menggilas

segala yang dimilikinya, airmatanya, peluh harapannya

yang lama ia tanam dalam ruang tempat teduh tubuhnya sehabis kerja

seorang senja yang menarik tangan anaknya dari lelap

dari mimpi tentang kebahagiaan yang tak lagi bisa diwujudkan

karena pentungan dan peraturan telah menenggelamkan

segala yang telah lama ia tanam dalam ruang tempatnya mengaji dan berdoa

gemuruh itu,

tiba-tiba menukik, mencekik ribuan bayi-bayi merah

dan teriakan mereka hanya auman harimau linglung di tengah gurun

gersang juga hati mereka yang memaksanya keluar dari kehidupan

dan hujan tak lagi memberi kesejukan,

kecuali tangisan mereka yang melebihi banjir bandang

dan kita hanya mampu memandang

gemuruh penggilasan berjamaah.

Bunga Pustaka, Februari 2009

Puisi-Puisi YOSI M GIRI*

permalink

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s